Memaafkan

Memaafkan memang mudah diucapkan tetapi melupakan sekaligus memaafkan  kesalahan orang lain termasuk  perbuatan yang sangat berat dilakukan. Seolah-olah pekerjaan memindahkan sebuah gunung  dan  bukit. Apalagi luka yang mereka ukir  di dalam sanubari kita  begitu dalam. Namun kita tetap di tuntut untuk memaafkannya,  terlebih  ketika dia sudah meminta maaf kepada kita.


Mengapa demikian?  Bukankah kita  ketika berbuat salah juga ingin dimaafkan? Karena itu maafkanlah dia.

Allah Berfirman "Orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang menafkahkan (hartanya) baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya serta (mudah) memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan." [Ali-Imran/3:134]

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah  bersabda :

"Barangsiapa yang didatangi  saudaranya yang hendak meminta maaf, hendaklah memaafkannya, apakah ia berada dipihak  yang benar ataukah yang salah, apabila tidak melakukan hal  tersebut (memaafkan), niscaya tidak akan mendatangi telagaku (di akhirat) (HR Al-Hakim)".

"Barangsiapa memaafkan saat dia mampu membalas maka Allah memberinya maaf pada hari kesulitan (HR Ath-Thabrani)".

BELAJARLAH UNTUK SELALU BISA MENULIS KESALAHAN SESEORANG DI ATAS PASIR AGAR ANGIN MAAF DATANG BERHEMBUS & MENGHAPUS TULISAN ITU.

Karena Terkadang 1000 kebaikan seseorang bisa terlupakan hanya karena 1 kesalahan. Padahal manusia itu tidak ada yang sempurna & semua orang itu pasti pernah melakukan kesalahan.

Belajarlah untuk bisa saling memaafkan, karena Allah saja selalu memaafkan kesalahan hambanya, kenapa kita tidak bisa memaafkan kesalahan orang lain.

Belajarlah untuk selalu mengingat kebaikan orang lain. dan jika kita salah jangan malu untuk minta maaf. Untuk itu Ane sekalian minta maaf ke Antum semua ya Bro atas segala salah dan khilaf Ane selama ini. Semoga kita semua diberikan kesempatan bertemu Romadhon tahun depan degan keimanan & ketaqwaan yang lebih baik.

Aamiin Ya Rabbal'alamiin..

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Memaafkan"